Membangun Harapan Lewat Uluran Tangan
Di tengah keterbatasan ekonomi yang membelit banyak keluarga prasejahtera, hadirnya lembaga zakat seperti LAZIS YAMAS (Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Yayasan Masyarakat Sejahtera) menjadi oase harapan yang menyegarkan. Salah satu kisah inspiratif datang dari Ibu Siti Maryam, seorang janda dengan tiga anak, yang menerima bantuan dari program pemberdayaan ekonomi https://www.lazis-yamas.org/ pada awal tahun 2024.
Permulaan yang Berat
Sejak suaminya wafat tiga tahun silam, Ibu Siti harus memikul seluruh beban keluarga seorang diri. Dengan latar belakang pendidikan yang terbatas dan tidak memiliki pekerjaan tetap, ia hanya mengandalkan penghasilan dari menjual gorengan di depan rumahnya. Penghasilannya yang tak menentu membuatnya sering kesulitan membayar kebutuhan dasar, termasuk biaya sekolah anak-anaknya.
“Kadang saya hanya bisa memberi mereka nasi dan garam. Untuk beli buku sekolah pun saya harus pinjam ke tetangga,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Bantuan yang Mengubah Kehidupan
Segalanya mulai berubah ketika ia diperkenalkan kepada program pemberdayaan ekonomi LAZIS YAMAS oleh salah satu kader di desanya. Setelah melalui proses seleksi dan survei, Ibu Siti terdaftar sebagai penerima manfaat. Ia mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp2.000.000 serta pelatihan keterampilan dan manajemen usaha kecil.
Dengan dana tersebut, Ibu Siti memperluas usahanya, tidak hanya menjual gorengan tetapi juga menyediakan makanan ringan dan minuman kemasan. Ia bahkan membeli etalase kecil untuk mempercantik lapaknya. Perlahan namun pasti, usahanya mulai berkembang.
Dampak yang Terasa Langsung
Tiga bulan setelah menerima bantuan, pendapatan hariannya meningkat dua kali lipat. Anak-anaknya kini bisa membawa bekal ke sekolah dan tak lagi menunggak pembayaran SPP. Ia pun mulai menabung sebagian dari keuntungannya, sesuatu yang dulu nyaris mustahil dilakukan.
“Saya merasa seperti diberi nafas baru. Bantuan dari LAZIS YAMAS bukan cuma uang, tapi semangat dan motivasi untuk bangkit,” ujar Ibu Siti dengan senyum haru.
Memberi Lebih dari Sekadar Bantuan
Program LAZIS YAMAS tak hanya menyalurkan dana, tetapi juga mengawal penerima melalui pendampingan rutin. Tim lapangan membantu dalam pencatatan keuangan, promosi sederhana, hingga pengelolaan stok barang. Model pemberdayaan ini dirancang agar para penerima manfaat tidak kembali ke situasi semula, melainkan naik kelas secara berkelanjutan.
“Target kami bukan sekadar memberi ikan, tapi membekali kail dan mengajarkan cara memancing,” jelas Pak Adi, salah satu koordinator program.
Menjadi Inspirasi di Komunitas
Kini, Ibu Siti tak hanya berdiri lebih kuat secara ekonomi, tetapi juga menjadi inspirasi di lingkungannya. Ia aktif berbagi kisahnya dalam pertemuan warga dan memotivasi ibu-ibu lain untuk ikut memberdayakan diri. Ia bahkan membantu mendampingi penerima manfaat baru yang memulai usaha serupa.
Kisah Ibu Siti hanyalah satu dari ratusan contoh bagaimana program zakat dan infaq yang dikelola dengan amanah dan tepat sasaran bisa mengubah nasib seseorang. LAZIS YAMAS menunjukkan bahwa bantuan, jika disertai dengan pendekatan manusiawi dan strategi pemberdayaan yang berkelanjutan, mampu menjadi pemantik harapan baru.
Melalui kisah-kisah seperti ini, kita diingatkan bahwa kekuatan sedekah dan solidaritas sosial tak hanya menghapus air mata, tetapi juga menyalakan masa depan yang lebih cerah. Sudahkah kita menjadi bagian dari perubahan ini?